MAKNA ESTETIK DAN SIMBOLIK MOTIF LIMAN DAN DALIMA DALAM KONSEP SADGUNA PADA KERATON CIREBON PERIODE KASEPUHAN I _ 1678-1698 DAN KASEPUHAN II _ 1698-1723

Artikel oleh Husen Hendriyana, ISBI Bandung

Kata kunci: makna, estetik, simbolik, motif liman, dalima, prinsip, sadguna, keraton, kasepuhan, cirebon

Sumber pengambilan dokumen: RJ 2016 HEN

Relasi: http://perpustakaan.isbi.ac.id/index.php?menu=dl&action=detail&identifier=jbptisbi-dl-20180604123639&node=78

Dibuat: 04 Juni 2018

Abstraksi

Cirebon menjadi pilihan lokasi objek penelitian karena memiliki keunikan dan kekhasan dalam seni-budaya. Keraton Cirebon memiliki banyak jenis artifak masa lalu yang masih bisa disaksikan dan belum terdefinisikan secara ilmiah. Terputusnya informasi antara masyarakat umum dan ndalem keraton menimbulkan keragaman interpretasi arti dan makna motif Liman dan Dalima. Tertutupnya makna esoterik bagi masyarakat luas, menimbulkan kepercayaan mistik terhadap artifak-artifak keraton yang disakralkan.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan estetik yang mengangkat objek artifak budaya masa lalu. Oleh karena itu teknik penelitian ini menggunakan metode historis melalui tinjauan diakronik dan sinkronik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini bertujuan untuk meneliti, menganalisis, dan menjelaskan status sekelompok objek artifak, manusia, kondisi, sistem pemikiran, atau peristiwa yang ada pada masa kekuasaan dan budaya keraton Kasepuhan I-II Cirebon. Di dalamnya dapat ditemukan fakta-fakta yang berkait dengan ide, tindakan dan artifak, serta nilai-nilai yang dapat diamati secara kualitatif maupun kuantitatif dalam mencari dan menemukan solusi ilmiah baik bentuk model atau cara untuk penyampaian informasi ditengah keragaman interpretasi kelompok masyarakat mengenai makna dan simbol Liman dan Dalima.

Hasil penelitian dapat disampaikan bahwa cara pandang estetik masyarakat keraton Cirebon masa pemerintahan Kesultanan Kasepuhan I-II dalam proses perwujudan motif Liman dan Dalima adalah melalui tiga cara pandang : 1) religi dan kepercayaan, 2) strategi budaya, dan 3) mitos. Pandangan religi: ditunjukkan pada (a) huruf Lam-lima QS.Al Fil dan Dal-lima QS.Al Ikhlas sebagai ide dan substasi simbolik motif Liman dan Dalima; (b) kayon- iwak telu sirah sinunggal dan ‘kembang kanigaran’ sebagai cermin filosofis dan simbolik terhadap proses pembacaan konsep estetik artifak budaya Keraton Kasepuhan Cirebon. Strategi budaya, ditunjukan pada (a) akulturasi sebagai cara dalam menegakan legitimasi kekuasaan; (b) ‘Islamisasi bentuk’ dan sinkritisme budaya sebagai cara dalam mengharmonikan nilai-nilai budaya Hindu pribumi dan muslim melalui prinsip-prinsip Sadguna, yaitu: ngangka (cita-cita, keyakinan, tujuan mulia), nyigi (untaian), ngiket (mengikat), ruwang jeung ngaruwang (pegangan dan duplikasi), rombong-ngarombong (ikatan, kelompok, kesatuan), nyigeung (selaras). Dengan demikian makna Estetik menurut pandangan masyarakat keraton Kasepuhan Cirebon adalah kesenangan yang didasari atas pemahaman dan kesadaran persepsi seseorang yang didapat dari hasil kesatuan hubungan bentuk-bentuk ide, tindakan dan artifak serta atribut-atribut lokal yang dijalin melalui konsep Sadguna. Sedangkan makna simboliknya berasal dari mitologi Liman dan Dalima yang bermakna kekuatan, kesuburan, keselamatan dan kesempurnaan.

Cara membaca dan memahami makna estetik dan simbolik artifak tradisi ini dapat digunakan untuk memahami artifak tradisi lain, karena di dalam artifak budaya itu terdapat wujud dan isi yang memiliki kecenderungan sifat tertutup maupun terbuka. Cara membaca bentuk hasil budaya dengan pendekatan simbol esoterik ini dapat diterapkan untuk membaca fenomena budaya modern sekarang. Dari hasil penelitian ini, ada hal penting yang dapat direfleksikan kembali terkait dengan pengaruh Keraton Cirebon terhadap perkembangan budaya lain, serta pengaruh metode dan cara pandang masyarakat keraton Cirebon terhadap kajian artifak budaya lain.


Cirebon was selected as the location object of the research as it has its own unique and characteristics in art-culture. Cirebon palace has many types of ancient artifacts that still can be seen but have not been scientifically identified as yet. Its dissolution of information between common people and the’ndalem’(inside) palace causes variety of interpretation of mean and meaning on Liman and Dalima motifs. The dissolution of esoteric meaning to mass common people, raises superstitious towards palace sacred artifacts.

This research is a qualitative research with esthetic approach that study past artifact object. Therefore, it employs historical method through diachronic and synchronic approach. The method being used was descriptive method. It was aimed to study, analyze and explained the status of a group of artifact, people, conditions, thinking system and events that happened during the power and cultural period of Cirebon Kasepuhan I-II. Within, it can be discovered facts related to idea, action, and artifacts and values that be studied qualitatively and quantitatively in the searching and finding scientific solution whether in the form of model or delivery of the information among the various interpretation of social group concerning meaning and symbol of Liman and Daliman.

The result of the research can be informed that esthetical perspective of people in Cirebon Palace during the governance of Kasepuhan sultanate I-II, in the process of embodiment of Liman and Dalima motifs were through three (3) ways: 1). Religion and belief, 2). Cultural strategy and 3). Myth. Religion perspective is shown at: (a). Arabic Lam letter-five QS.Al Fil and Dal-five QS. Al Ikhlas as idea and symbolic substance of motifs of Liman and Dalima; (b) kayon-iwak telu sirah sinunggal (three fish collaborated head) and ‘Kembang Kanigaran’ as philosophical and symbolic reflection in the process of the reading of esthetic concept of the Cirebon Kasepuhan palace culture. Cultural strategy is shown on (a). Acculturation as a way in erecting power rules; (b) ‘Islamisation of form’and syncretism culture as a way in harmonizing cultural values native Hinduism and Muslim through Sadguna principles, such as: ngangka (hope, believe, noble aims), nyigi (strands), ngiket (bonding), ruang jeung ngaruang (holding and duplicate), rombong, ngarombong (bonding, group, union)., nyigeung (harmony).
Therefore, esthetic meaning perspective of the people of Cirebon Kasepuhan palace was a joy that was based on understanding and awareness of someone’s perception as a result of a combination of forms, ideas, actions and artifact’ relationship of Liman Dalima with someone’s awareness perspective that was constructed through Sadguna concept. While the symbolic meaning came from Liman and Dalima mythology that meant unity, fertility, safety and perfection.
The way to read and understand esthetic and symbolic meaning of the artifact in here, can be used to comprehend other tradition artifact, because in that particular culture artifact occur form and content that possesses disclosure or open tendency. The way to read a cultural result form with esoteric-symbolic approach can be applied to read today modern cultural phenomena. From this research result, there are an essential thing that can be reflected again relating to the affect of Cirebon palace against other culture development, and the affect of method and people of Cirebon palace’s perspective towards other cultural artifacts study.

Hak Cipta

Copyright 2018 Perpustakaan ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#