MAKNA DAN SIMBOL GERBANG SEMBILAN ASTANA SUNAN GUNUNG JATI CIREBON

THE SYMBOL AND MEANING OF SEMBILAN ASTANA SUNAN GUNUNG JATI CIREBON’s GATE

Artikel oleh Husen Hendriyana, ISBI Bandung

Kata kunci: Makna, Simbol, Sembilan Gerbang, Astana Sunan Gunung Jati

Sumber pengambilan dokumen:

Relasi: http://perpustakaan.isbi.ac.id/index.php?menu=dl&action=detail&identifier=jbptisbi-dl-20180604095432&node=118

Dibuat: 04 Juni 2018

Abstraksi

Astana Sunan Gunung Jati merupakan karya budaya tradisi yang teramasuk dalam kategori bangunan ”suci” (keramat) berbentuk Punden Berundak. Di dalam bangunan tersebut terdapat sembilan undaga (halaman) yang masing-masing undagan dibatasi dengan Gerbang yang membentuk sumbu imajiner garis lurus menuju puncak undagan. Bentuk dan jumlah gerbang tersebut bagi penulis menjadi fenomena yang sangat menarik untuk diteliti, terkait dengan ekspresi budaya yang memungkinkan sarat akan nilai-nilai simbolik yang dapat ditafsirkan.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk visual, gaya visual Gerbang Sembilan Astana Sunan Gunung jati dari unsur-unsur budaya yang mempengaruhi dan mewarnainya, serta menemukan pemahaman tentang, simbol-simbol visual dalam konteks budaya spiritual.

Untuk mengetahui makna dan simbol yang ada pada wujud fisik gerbang sembilan astana tersebut, sama halnya dengan mengetahui nilai-nilai yang tersirat di dalamnya. Dengan demikian adanya unsur-unsur sebagai struktur pembentuk artefak budaya dimaksud, secara struktur harus dilihat secara holistik dengan beberapa aspek unsur budaya yang mempengaruhinya: budaya primordial (Sunda-Galuh-Cirebon), Hindu-Budha, dan Islam (Jawa). Karakteristik kehidupan budaya masyarakat tersebut dapat dibaca melalui pola-pola kehidupannya, yaitu melalui jalinan laku dan benda yang secara kontekstual dapat ditinjau dalam jalinan sinkroniknya.

Dari hasil analisis, diperoleh pemahaman bahwa pola struktur orientasi dan tata ruang Astana banyak dipengaruhi dengan konsep tata ruang budaya primordal dan konsep tata ruang bangunan suci umat Hindu. yaitu dengan konsep Tri Bhuwana, Tri Mandala dan Sanga Mandala.
Bersumber dari inti ajaran tasawuf, undagan sembilan gerbang Astana Sunan Gunung Jati dapat ditafsirkan sebagai simbol ajaran tasauf wahdatul-wujud ”nawadwara” (nawad, nawa=sembilan) (wara=jalan), laku barata ilmu kasampurnan yang diajarkan oleh para wali. Sembilan Undagan Gerbang Astana tersebut sebagai gambaran emanasi Illahiah dan konkresi nilai-nilai transendensi melalui 9 maqom spiritual: (1) tobat, (2) sabar, (3) kefakiran (fukoro illalloh), (4) zuhud, (5) taqwa, (6) tawakal, (7) mahabah, (8) makrifat dan (9) ikhlas/ridlo.


Astana Sunan Gunung Jati is a cultural traditional masterpiece that including one of sacred edifice category and its characterized by Punden Berundak. Inside the edifice, there is nine terrace and all of those bordered by gate with straight line of imaginer pith to head for terrace peak. The shape and amount of the gate are interesting phenomena for the author to conduct a research into this object. The author thought that these phenomena are also related to the cultural expression and also have symbolic values that can be elaborated furthermore.
The objective of this research is to get better understanding about the visual shape as well as visual style of Sembilan Astana Sunan Gunung Jati’s gate from the cultural principles that can be affecting it, and at the same time also try to find out the better understanding about visual symbols in the cultural spiritual context.
By means of understanding the symbol and meaning of the gate physically it means also try to understand the meaning of it implicitly. Thus, those principles that have been constructed by the cultural artefact should be observed holistically, particularly on some cultural aspects, such as primordial culture (Sunda-Galuh-Cirebon), Hindu-Buddha, and Islam (Java). Characteristic of the cultural community lives can be recognized by their live patterns composed of behaviour patterns and material that can be observed contextually in synchronic of those patterns.
According to the analysis, hope it will be delivered some better understanding that elaborate that the patterns of orientation structure and space arranging Astana have been affected a lot by cultural space arranging concept of Primordial and Hinduism, particularly on the three concept of Tri Bhuwana, Tri Mandala dan Sanga Mandala. Source from kernel of truth mysticism wahdaul wujud, its nine terrace of Astana Sunan Gunung Jati can be interpretive have symbolic values as teaching of mysticism nawadwara, nawad (nine), wara (the way of spiritual meditations to be ascetic. That is to reach kernel of truth life. Its as asceticism doing by (1) repentance, (2) patience, (3) pieties, (4) pious, (5) God fearing, (6) Trust in god, (7) loving, (8) makrifat, (9) willingness.

Hak Cipta

Copyright 2018 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

Kontributor

#