INTERAKSI SIMBOLIK PADA PERTUNJUKAN WAYANG GARING “RADEN SATRIA BAMBANG SINAR WARISAN”

Artikel oleh Anggita Briana Putri, ISBI Bandung

Kata kunci: wayang garing, kajali, interaksi, simbolik

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2018 PUT

Relasi:

Dibuat: 25 Januari 2019

Abstraksi

Wayang Garing merupakan sebutan untuk pertunjukan wayang kulit yang dihadirkan oleh seorang dalang bernama Kajali di desa Mandaya kecamatan Carenang Banten. Wayang Garing dikenal sejak tahun 1954. Istilah Wayang Garing hadir karena bentuk pertunjukan yang disajikan ke luar dari berbagai pakem pertunjukan wayang kulit pada umumnya. Di antaranya pertunjukan Wayang Garing tidak digelar dalam sebuah panggung yang megah, juga tidak diiringi seperangkat gamelan dengan para nayaga dan pesinden. Berbagai keterbatasan itulah istilah ‘Wayang Garing’ muncul, karena terkesan ‘kering’, sebab Wayang Garing berangkat dari yang ada.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yang dilakukan dengan cara mengkaji data-data yang telah diperoleh. Penelitian kualitatif digunakan peneliti dengan metode deskriptif analitis. Metode deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai pertunjukan Wayang Garing yang disajikan Kajali. Di dalamnya terdapat upaya mencatat, mengamati, mendeskripsikan, dan menganalisis bagaimana interaksi simbol yang terjadi antara Kajali dan penontonnya. Peneliti akan mendeskripsikan tentang bagaimana upaya-upaya yang dilakukan Kajali dalam mengakrabkan diri dengan penontonnya melalui tindakan-tindakan simbolik. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta.
Hasil temuan dalam penelitian ini, setelah mengkaji salah satu pertunjukan Wayang Garing dengan lakon yang berjudul “Raden Satria Bambang Sinar Warisan” terdapat beberapa upaya-upaya Kajali yang memiliki nilai interaksi. Salah satu interaksi simbolik terjadi pada peristiwa saweran. Melalui peristiwa tersebut, penulis mengkaji nilai-nilai yang tertuang dalam teks pertunjukan melalui teori interaksionisme simbolik yang dikemukakan Blumer. Maka makna dan ‘konsep diri’ akan ditemukan dalam kecenderungan interaksi melalui bahasa pertunjukan Kajali.


Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#