TARI SHIU PAT MO KARYA ENTONG SUKIRMAN KISAM SEBUAH PENDEKATAN CULTURAL STUDIES

Artikel oleh Nurul Rohmawati, ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, tari, estetika tari

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2018 ROH

Relasi:

Dibuat: 25 Januari 2019

Abstraksi

Tari Shiu Pat Mo bersumber dari tari cokek yang berkembang di daerah pinggir Kota Jakarta sebagai tempat bermukimnya orang Betawi pinggir. Seiring berjalannya waktu, dilakukan rekonstruksi terhadap bentuk pertunjukan tari cokek menjadi tari sirih kuning. Pada tahun 2004 direkonstruksi kembali tari cokek menjadi Tari Shiu Pat Mo oleh Entong Sukirman Kisam, sebagai seniman Betawi generasi ke-3, yang kemudian dijadikan subjek meter penelitian.
Metode kualitatif dengan sudut pandang interpretif diterapkan dalam penelitian ini melalui pendekatan cultural studies. Pendekatan tersebut memiliki konsekuensi penguasaan keilmuan yang beragam. Oleh karena itu, dimanfaatkan korelasi dari perspektif ilmu antropologi budaya (Koentjaraningrat), sosiologi (Doyle), dan etnografi (James P. Spradley). Pendekatan cultural studies pada penelitian ini cenderung multi disiplin. Ketiganya menghasilkan pemaknaan dan representasi dari hubungan antar komponen dalam sebuah formasi sosial yang bertujuan untuk memperoleh posisi agen dalam wilayah kontenstasi.
Penelitian ini menghasilkan interpretasi dan pemaknaan tentang struktur ilmu pengetahuan estetika tari, melalui pembacaan terhadap rekonstruksi tari cokek dan posisi Entong Sukirman Kisam dalam budaya Betawi mutakhir.


Shiu Pat Mo Dance came from Cokek Dance that developed in the suburb of Jakarta where the Betawi people live. Later the form of Cokek Dance transformed into Sirih Kuning Dance. In the Year 2004, Cokek Dance return back to its first form Shiu Pat Mo Dance by Entong Sukirman Kisam as the artist from the 3rd generation of the Betawi and then he became the subject of research.
Qualitative methode is applied in this research by using the cultural studies approach. This approach need to have the variety of knowledge. That"s why we use the correlation from anthropology perpective (Koentjaraningrat), sosiology (Doyle) and etnography (James p. Spradley). This cultural studies on this research has many disciplines. Those three approach es have the connection inter component in the social formation to achieve agent position in the contestation.
This research gives the interpretation and meaning about the knowledge of the dance aesthetic through reading the reconstruction of Cokek Dance and the existence of Entong Sukirman in the latest Betawi Culture.

Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#