ESTETIKA TARI PADA BANGRENG

Artikel oleh Sopian Hadi, ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian seni, estetika tari, ketuk tilu, tayub

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2018 HAD

Relasi:

Dibuat: 28 Januari 2019

Abstraksi

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang estetika tari pada Bangreng yang di dalam pertunjukannya terdapat perpaduan tari rakyat dan tari menak. Hal itu dapat terindentifikasi dari bentuk-bentuk tari yang disajikan pada Bangreng. Bangreng merupakan salah satu bentuk kesenian yang notabenenya berada di dalam genre kesenian rakyat. Namun pada penyajiannya Bangreng memiliki keunikan dan keistimewaan dengan meniru konsep yang terdapat pada kesenian menak. Metode penelitian kualitatif deskriptif analisis digunakan dalam penelitian Bangreng. Teori yang digunakan adalah teori estetika Djelantik yang yang digunakan untuk menganalisa estetika tari pada Bangreng. Djelantik mengemukakan bahwa unsur-unsur estetika terbagi ke dalam tiga unsur yaitu wujud, bobot dan penampilan. Dalam pandangan estetika Djelantik, Bangreng merupakan wujud estetik yang di dalamnya terdapat bentuk kesenian rakyat dan kesenian menak yang di dalamnya terdapat estetika tari Ketuk Tilu dan tari Tayub. Dari kedua genre tari ini menghasilkan sebuah konsep “Nayub dina Bangreng” yang didalamnya terdapat Ibing Nyerimpi, Ibing Patokan, Tayub Rakyat, dan Tayub Balandongan.


This study aims to explain the aesthetic of dance in Bangreng, which in its performance there is a fusion of folk dance and noble dance. It can be identified from the dance forms presented in Bangreng. Bangreng is one form of art that is notably in the genre of folk art. However, in its presentation, Bangreng has a uniqueness and speciality by imitating the concepts contained in the noble art. Qualitative descriptive analysis research method was used in Bangreng"s research. The theory used is Djelantik’s aesthetic theory which is used to analyze dance’s aesthetics in Bangreng. Djelantik said that aesthetic elements are divided into three elements, they are: form, weight and appearance. In the view of Djelantik’s aesthetic, Bangreng is an aesthetic form that has the form of folk art and noble art in it which also include the aesthetics of Ketuk Tilu dance and Tayub dance in it. From these two dance genres resulted a concept "Nayub dina Bangreng" which included Ibing Nyerimpi, Ibing Patokan, Tayub Rakyat, and Tayub Balandongan in it.

Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#