SAKRALITAS NGUKUS GOONG GEDE

Artikel oleh Wisnu Wirandi, ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, ritual, sakral, ngukus, goong gede

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2018 WIR

Relasi:

Dibuat: 29 Januari 2019

Abstraksi

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses ritual Ngukus Goong Gede dan unsur-unsur sakral yang terdapat di dalam sajen, waditra Goong Gede, musik Goong Gede, serta letak wilayah budaya masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul, sehingga dapat diketahui bagaimana cara pandang masyarakat terhadap fenomena tersebut. Melalui bentuk analisis sakralitas Mircea Eliade dan pandangan hakekat bentuk simbolik berdasarkan pola fikir Victor Turner, diketahui cara-cara masyarakat melakukan pemaknaannya dipengaruhi oleh fakta sosial dominasi budaya Arab pada kehidupan masyarakat adat. Berdasarkan peristiwa tersebut pula, relasi ritual Ngukus Goong Gede dengan kehidupan masyarakat Citorek yang mayoritas beragama Islam terlihat dari sistem berfikir masyarakatnya. Dengan menggunakan pandangan estetika paradoks Jakob Sumardjo, ditemukan pemahaman relasi harmoni antara dua entitas yang saling bertentangan namun saling melengkapi. Metode observasi kualitatif digunakan dalam perekaman dan pencatatan aktivitas masyarakat di lokasi penelitian. Hasil analisis data disajikan secara deskirptif, tabel dan gambar sebagai pelengkap. Dengan dilakukannya wawancara, studi studi lapangan, studi pustaka dan studi dokumentasi, maka diketahui bahwa ritual Ngukus Goong Gede merupakan fenomena budaya yang paradoks pada masyarakat Citorek. Hal tersebut dikarenakan terdapat dualisme kepercayaan dari sistem berfikir masyarakatnya, yakni percaya terhadap eksistensi Agama Islam dan leluhurnya. Ngukus Goong Gede telah menjadi bagian dari silkus hidup masyarakat Citorek yang merupakan sebuah praktik kebudayaan. Sebagai peristiwa budaya, ritual Ngukus Goong Gede menunjukan pola pikir primordial masyarakat Citorek yang diwariskan dari generasi ke generasi, membuat kegiatan ritual Ngukus Goong Gede tetap dipertahankan hingga saat ini.


This study aims to explain the process ritual Ngukus Goong Gede and not-last in the sadjen, Goong Gede musical instrument, music Goong Gede, as well as the location of the indigenous culture of south Banten, so it can be known how the public view of the phenomenon. Through the form of sacred analysis of Mircea Eliade and the view of the essence of symbolic form based on Victor Turner"s thought patterns, known ways of doing society its meaning influenced by the fact social dominance of Arab culture on the life of indigenous peoples. Based on the event as well, the relation of ritual Ngukus Goong Gede to the life of Citorek community that the majority of Moslem is seen from the system of thinking of the society. Using the aesthetic paradox view of Jakob Sumardjo"s, found an understanding of harmony relations between two conflicting but complementary entities. Qualitative observation methods are used in recording and recording of community activities in the study sites. The results of data analysis are presented descriptively, tables and drawings as a complement. By conducting interviews, field studies, library studies and documentation studies, it is known that the Ngukus Goong Gede ritual is a paradoxical cultural phenomenon in Citorek society. This is because there is a dualism of trust, namely to believe in the existence of Islam and its ancestors. Ngukus Goong Gede has become part of Citorek society"s living silk which is a cultural practice. As a cultural event, the Ngukus Goong Gede ritual shows the primordial mindset of Citorek society passed down from generation to generation making ritual activities Ngukus Goong Gede retained to this day.

Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#