RITME GEOMETRIS

Artikel oleh Hilman Cahya Kusdiana, ISBI Bandung

Kata kunci: penciptaan, postformalisme, dekonstruksi, cd

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2018 KUS

Relasi:

Dibuat: 29 Januari 2019

Abstraksi

Ketertarikan dan obsesi terhadap benda atau medium CD merupakan titik
tolak terciptanya karya seni lukis ritme geometris ini. Kepedulian terhadap
disiplin seni yang secara visual cenderung tidak diperhatikan, teknik tidak
diindahkan lagi menjadi latar belakang untuk menggandeng mazhab formalisme
ini. pada intinya paham ini mengosongkan dan membebaskan seni dari tendensi
persoalan lain seperti politik, sosial, agama dan yang lainnya, namun hal tersebut
menjadi kontradiktif dengan medium yang dipilih yaitu CD yang sesungguhnya
memiliki jejak naratifnya sendiri. Berdasarkan hal tersebut paham formalisme
diformulasikan kembali dalam kesadaran logika dekonstruksi pada paradigma
postmodernisme dan diberikan istilah postformalisme. Postformalisme ini dapat
diartikan bahwa seni membutuhkan teknik dalam perwujudannya, optimalisasi
elemen seni harus dipentingkan karena teks lah yang akan berhadapan pertama
kali dengan apresiator, akan tetapi tidak serta merta mengosongkan seni dari
makna. Dalam hal ini makna ditunda atau ditangguhkan.
Dalam proses penciptaannya, metode yang digunakan diantaranya
eksplorasi, improvisasi dan pembentukan. Eksplorasi yang dilakukan meliputi
konsep berkarya, material yang digunakan, teknik dan mencari bentuk-bentuk
yang dijadikan objek pada karya (geometris). Improvisasi dilakukan dengan
melakukan eksperimentasi pada material CD, teknik dalam berkarya,
mempertimbangkan berbagai hal mengenai nilai artistik dari benda yang diolah,
hingga menemukan integritas dari percobaan-percobaan yang dilakukan
sebelumnya. Pembentukan merupakan realisasi karya dengan cara
mengintegrasikan berbagai hasil dari percobaan berdasarkan selera untuk
kepuasan batin pencipta.
Karya seni ritme geometris dengan medium CD ini membuktikan bahwa
tidak ada batasan dalam berkreasi. Formula baru pun dihasilkan dari suatu narasi
besar modernisme yang cenderung penuh dengan aturan menjadi longgar. Dengan
demikian berkarya seni dilakukan dalam konteks bermain dan tanpa batasan.
Begitupun dengan pemaknaan yang ditangguhkan, karena sejatinya tidak ada
makna absolut, yang muncul adalah jejak (trace). Dalam hal ini makna
sepenuhnya diserahkan pada apresiator.


Interest and obsession towards objects or CD medium is the starting point
to the creation of works of art of painting geometric rhythm. Awareness of the
discipline of art visually tend not to be noticed, the technique is not above begging
again became the background to employ this formalism sect. in essence this
familiar clearing and freeing art from a perception that issues such as political,
social, religious and more, but it becomes contradictory with the selected medium
that the CD traces naratifnya on its own. Based on the doctrine of formalism is
formulated back in the consciousness of the logic of deconstruction on the
paradigm of postmodernism and given the term postformalisme. This
Postformalisme can be interpreted as that art requires engineering in its
realization, optimization of the art elements must be at stake because the text was
the one who confronted first with the apresiator, but did not immediately vacate
the art of meaning. In this case the meaning is delayed or suspended.
In the process of its creation, the methods used include exploration,
improvisation and the establishment. Exploration undertaken include the concept
of work, material used, techniques and find forms that made object on paper
(geometric). Improvisation done with doing the experimentation in materials
engineering, CD in the works, consider various things about the artistic value of
the objects being processed, to find the integrity of experiments conducted
previously. The establishment is the realization of the work by way of integrating
the various results of the experiment based on tastes for satisfaction of the inner
creator.
Geometric rhythm work of art with the medium of this CD proves that
there is no limit in coding. Any new formula resulting from a large modernist
narrative tends to be full of rules became loose. Thus the work of art done in the
context of the play and without restriction. Likewise with the definition of a
suspended, due to the fact there is no absolute meaning, emerges is traces. In this
case the meaning completely handed over on apresiator.

Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#