RANDAI IDENTITAS FOLKLOR MINANGKABAU

Artikel oleh Sri Rustiyanti, ISBI Bandung

Kata kunci: randai, folklor, minangkabau

Sumber pengambilan dokumen:

Relasi:

Dibuat: 26 Februari 2019

Abstraksi

PRAKATA
Buku berjudul Randai: Identitas Folklor Minangkabau,
wacana ini dirasakan memang sangat diperlukan
sebagai wawasan pengetahuan dan apresiasi budaya
dan seni pertunjukan di lingkungan akademik ISBI Bandung
khususnya, dan perguruan tinggi seni lainnya. Perkembangan
kesenian khususnya pertunjukan di Indonesia, terlihat telah
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dikarenakan
tari, musik, dan teater telah dipelajari secara akademis pada
lembaga-lembaga pendidikan kesenian yang ada di Indonesia.
Pada perkembangannya, ISBI Bandung saat ini sedang membuka
minat utama untuk program studi Antropologi di bawah Fakultas
Budaya dan Media. Dengan demikian banyak persiapan-persiapan
yang telah dilakukan, salah satunya untuk memenuhi kebutuhankebutuhan
referensi buku dalam pengembangan program studi
tersebut. Buku ini sebagai materi bahan ajar yang tersebar dalam
mata kuliah Folklor Indonesia, Seni Pertunjukan Indonesia, Kritik
Seni, Etnisitas, Literatur Tari, dan Silang Gaya Tari Minang, yang
menjadi tanggung jawab penulis sebagai dosen mata kuliah
tersebut. Buku ini berusaha sejauh mungkin menghubungkan
pokok bahasan dengan realitas yang dikaitkan dengan berbagai
contoh yang ada dalam masyarakat.
Randai sebagai salah satu mata kuliah pada kurikulum Prodi
Tari, di samping itu juga sebagai sebaran materi mata kuliah Folklor
Indonesia yang ada dalam kurikulum Prodi Antropologi, hingga
saat ini masih sangat terbatas buku-buku tentang keragaman
Folklor Indonesia yang disusun berdasarkan kebutuhan
mahasiswa yang telah terdapat dalam RPP (Rancangan
Pembelajaran Persemester). Oleh karena itu, disusunlah buku ini
untuk mengingatkan kembali folklor yang ada di Minangkabau,
di samping untuk menawarkan pengembangan kualitas seni
tradisi ke arah persesuaiannya dengan kebutuhan mahasiswa agar supaya mampu mengikuti perkembangan zaman atau dinamika
kehidupan, sehingga seni tradisi tetap eksis di tengah-tengah
perubahan sosial budaya.
Buku Folklor ini membahas tentang randai, suatu bentuk seni
dramatik yang tumbuh dalam masyarakat etnis Minangkabau di
Sumatera Barat. Sebagai suatu pergelaran budaya, randai
diselenggarakan secara tradisional dalam berbagai agenda
pamenan anak nagari di Minangkabau. Sebagai teater rakyat,
randai senantiasa diproduksi dengan tatanan dramaturgial khas
yang tampak berkaitan dengan tatanan sosio-kultural yang
berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Oleh sebab itu,
diuraikan aspek-aspek dramaturgial randai sebagai teks
pergelaran, teks lakon dan rumusan-rumusan dramaturgial yang
digunakan untuk membangun kedua teks tersebut. Berdasarkan
uraian aspek-aspek dramaturgial itu, tampak benang merah yang
menghubungkannya dengan berbagai unsur dalam tatanan sosiokultural
masyarakat Minangkabau. Melalui penelusuran lebih
jauh, dapat terlihat kaitan tentang hubungan nilai dan makna
randai dalam tatanan sosio-kultural di Minangkabau, dengan
aspek dramaturgial galombang randai dan tokoh pemain akting
dan dialog dalam randai.
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung merupakan
salah satu Perguruan Tinggi Seni yang ada di Indonesia,
merupakan suatu lembaga yang bertanggung jawab atas
kelangsungan seni tradisi. Sebagai lembaga yang tidak hanya
melakukan transformasi ilmu kepada mahasiswa; melaksanakan
Tri Dharma Perguruan Tinggi; tetapi juga mengkaji, meneliti,
mencipta, dan melayani mahasiswa di bidang seni budaya serta
memiliki tekad eksistensi kampus sebagai Pusat Penelitian dan
Pengabdian pada Masyarakat. Peranan dosen sebagai fasilitator
lebih penting dari pada peran dosen sebagai sumber informasi.
Dalam perkuliahan dosen menyampaikan materi kepada
mahasiswa yang secara psikologis mempunyai kemampuan
untuk belajar mandiri. Dosen yang efektif dan efisien akan lebih
banyak menggunakan waktu sebagai fasilitator dalam pembelajaran, serta mampu mendorong motivasi mahasiswa
untuk meningkatkan minat belajar secara terstruktur.
Diharapkan buku teks ini dapat mempermudah mahasiswa
dalam memahami dan menjelaskan persoalan-persoalan seni yang
muncul dengan berbagai fenomena. Di samping itu juga sebagai
buku ajar guna menambah referensi buku perkuliahan dan
menambah wawasan/apresiasi seni dan budaya. Randai sebagai
salah satu bentuk folklor Indonesia menjadi salah satu identitas
kebudayaan yang ada di Minangkabau, untuk menambah
wawasan tentang teater tradisional yang ada di Indonesia. Akhir
kata sangat diharapkan kepada pembaca untuk dapat
memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan buku ajar ini.

PENGANTAR EDITOR
Folklor adalah lapisan paling tebal dalam tradisi
masyarakat Indonesia. Ia diproduksi sebelum tradisi
tulis muncul, terus diproduksi saat tradisi tulis
berkembang, dan tetap diproduksi saat tradisi tulis terlampaui.
Oleh karena itu, wajar, jika dalam folklor terkandung pengetahuan
dari masa lampau, di samping pengetahuan yang tumbuh
sezaman. Dalam folklor tersimpan pengetahuan yang kaya
tentang hidup dan kehidupan manusia, baik yang berhubungan
dengan dirinya sendiri, masyarakat, alam lingkungan, waktu,
maupun Tuhan. Melihat betapa luas dan fleksibelnya wilayah
folklor, tampaknya ia akan tetap ada sepanjang manusia dan
masyarakatnya ada.
Namun, walaupun Indonesia sangat kaya dengan folklor,
perhatian tentangnya belumlah memadai. Buku-buku dan hasilhasil
penelitian tentang folklor belum sebanding dengan jumlah
dan keragaman folklor di negara kita. Alhamdulillah, di antara
yang sedikit itu lahir satu buku berjudul Randai: Identitas Folklor
Minangkabau karya Sri Rustiyanti, dosen Institut Seni Budaya
Indonesia (ISBI), Bandung.
Buku ini diperuntukkan sebagai bahan ajar yang terkait
dengan beberapa mata kuliah di ISBI Bandung. Di dalamnya
dibahas seluk-beluk randai, baik secara intrinsik maupun
ekstrinsik. Yang dimaksud dengan instrinsik ialah anasir-anasir
pembentuk “teks” randai yang mencakup antara lain: tari (pencak
silat), musik (alat-alat instrumental dan vokal), drama (akting dan
dialog), sastra (gurindam dan kaba), rupa (busana dan properti),
dan struktur teknis penyajiannya. Adapun yang dimaksud dengan
ekstrinsik ialah anasir-anasir luar atau “konteks” yang turut
mempengaruhi perkembangan randai, baik sejarah, agama, adat,
maupun sosial kemasyarakatan Minangkabau.
Dalam buku ini randai dilihat sebagai satu perjalanan kreatif inovatif, bukan sebagai sesuatu yang baku dan tertutup. Oleh
karena itu, banyak manfaat yang bisa dipetik dari proses
pembentukan seni pertunjukan ini. Sebagai contoh, kita dapat
mengerti dan memahami ternyata perempuan dalam randai tidak
hadir pada awal kemunculan seni teater ini, tetapi masuk secara
berangsur-angsur. Selain itu, randai pun ternyata adaptif terhadap
perkembangan teknologi. Penulis mendedahkan bagaimana
randai yang asalnya bermain di lapangan berangsur-angsur dapat
bermain di panggung pertunjukan proscenium lengkap dengan
tata ruang, tata cahaya, dan tata suaranya.
Sebagai seni pertunjukan teater total, randai bagai spons yang
menyerap anasir-anasir baik dari khazanah seni tradisi dan budaya
Minangkabau serta lingkungan di luarnya untuk kemudian
dijadikan ilham yang tak pernah kering oleh mereka yang dapat
memahami kearifannya. Oleh karena itu, sangat beralasan dalam
bab terakhir penulis membahas peran randai dalam pembentukan
karakter masyarakat Minangkabau. Hal ini sangat
memungkinkan karena randai sarat akan nilai. Dalam gerak,
busana, musik, cerita, dan anasir lain dari randai mengandung
makna dan nilai-nilai yang dapat menjadi acuan masyarakat
pendukungnya.
Melihat fenomena seperti ini, betapa dinamisnya folklor kita
dan betapa kuatnya jalinan hubungan folklor dengan lingkungan
dalam maupun lingkungan luarnya. Dengan membaca buku
Randai: Identitas Folklor Minangkabau, sebagai orang Sunda, saya
tidak hanya dapat memahami identitas randai sebagai folklor
Minangkabau, tetapi secara analog dapat pula memahami folklor
Sunda yang mirip dengan randai, misalnya, sandiwara sunda,
longsér, uyeg, atau ronggéng banjet. Oleh karena itu, buku ini layak
dibaca bukan saja oleh mahasiswa ISBI, tetapi juga oleh para
pencinta dan peneliti seni dan folklor Nusantara.


Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#