WAYANG KULIT DAN TOPENG DALAM UPACARA MAPAG SRI

Artikel oleh Een Herdiana ; Toto Amsar Suanda, ISBI Bandung

Kata kunci: mapag sri, wayang, topeng

Sumber pengambilan dokumen:

Relasi:

Dibuat: 27 Februari 2019

Abstraksi

BUKU ini disusun berdasarkan hasil penelitian tentang Mapag
Sri tahun 2006 yang berjudul: "Kosmologi Kepercayaan Lama
Masyarakat Desa Pangkalan Kabupaten Cirebon Dalam Upacara
Mapag Sri (Studi Melalui Pertunjukan Wayang Kulit dan Topeng
Cirebon)." Untuk kepentingan penyusunan buku, judul penelitian
itu kami sederhanakan menjadi WAYANG KULIT DAN TOPENG
DALAM UPACARA MAPAG SRI.
Kami merasa bahwa hasil penelitian ini penting untuk
dipublikasikan dalam bentuk buku kepada masyarakat, mengingat
isinya dipandang perlu untuk diketahui dan bisa dijadikan sebagai
bahan kajian lanjutan. Kalaupun penelitian telah dilakukan lebih
dari satu dekade yang lalu, namun hasilnya masih sangat relevan
dengan keadaan kehidupan masyarakat Desa Pangkalan saat ini.
Upacara Mapag Sri di desa tersebut masih tetap dilaksanakan
sampai saat ini. Wayang kulit dan topeng juga masih tetap
difungsikan sebagai media untuk mengekspresikan rasa syukur
masyarakat atas berkat dan hidayah yang diberikan Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Suatu hal yang paling mengasyikkan dalam penelitian ini adalah
adanya peristiwa tak terduga yang didapat di lapangan. Bisa jadi
pengalaman tak terduga itu tidak akan dialami lagi dalam waktu
dekat. Sebagaimana diceritakan banyak orang, bahwa dalam
pertunjukan wayang kulit atau topeng Cirebon, seringkali ditemukan
adanya hal-hal yang bersifat tidak biasa. Kini, suatu hal yang tidak
biasa itu sudah amat jarang ditemukan lagi, baik dalam panggungan
biasa maupun dalam upacara-upacara ritual.
Ketidakterdugaan yang dimaksud adalah kenyataan dari cerita
lama tadi. Pertama, penelitian ini menemukan data arkais, yakni
adanya seorang ibu yang melahirkan berbarengan dengan
pertunjukan topeng dalam upacara Mapag Sri dan ia meminta nama
untuk bayinya kepada dalang topeng. Nama bayi yang diberikan
dalang topeng di atas panggung dinamakan nama panggungan.
Peristiwa itu kini nyaris hanya tinggal kisah oral. Kedua, tabu dalam
sebuah upacara terlanggar. Walaupun peristiwanya tidak persis
saat penelitian dilaksanakan (terjadi pada tahun 2004), namun tabu
yang terlanggar itu memperlihatkan kenyataannya. Dalam upacara
Mapag Sri di Desa Pangkalan, salah satu tabu bagi masyarakat
adalah mengadakan tanggapan kesenian yang berbarengan dengan
pertunjukan upacara. Ketika tabu itu terlanggar, maka terjadilah
aral, yakni hujan yang amat lebat disertai angin kencang. Padahal,
saat itu musim kemarau. Penangkalnya adalah penyelipan pelepah
pisang di atas tarub, yang sebelumnya diberi doa oleh kuncen. Aral
tidak berlanjut. Upacara pun berjalan lancar. Peristiwa itu
mengingatkan kami pada anggapan, bahwa alam mistis itu adalah
alam nyata juga.
Suatu hal yang dianggap sulit saat naskah penelitian itu
disusun, terletak pada saat membaca inti masalah. Apalagi
kosmologi dan kepercayaan lama adalah suatu hal yang sangat
erat kaitannya dengan konteks upacara tersebut yang
interpretasinya sangat terbuka luas. Akan tetapi, membaca apa
yang ada dibalik peristiwa upacara Mapag Sri dengan pertunjukan
wayang kulit dan topeng Cirebon, adalah suatu tantangan yang
mengasyikkan. Oleh sebab itu, kami berusaha semaksimal dan
sebaik mungkin untuk menguraikannya. Ketidakmaksimalan hasil
penelitian ini bisa dipenuhi oleh yang lain, yang punya interes
terhadap persoalan yang sama.


Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Unduh / baca

1 Dokumen format pdf

Kontributor

#