/server/www/perpustakaan/lib/SearchEngine/DefaultEngine.php:705 "Search Engine Debug 🔎 🪲"
Engine Type ⚙️: "SLiMS\SearchEngine\DefaultEngine"
SQL ⚙️: array:2 [ "count" => "select count(distinct b.biblio_id) from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id left join mst_gmd as mg on b.gmd_id=mg.gmd_id left join biblio_author AS ba ON ba.biblio_id=b.biblio_id left join mst_author AS ma ON ba.author_id=ma.author_id left join biblio_topic AS bt ON bt.biblio_id=b.biblio_id left join mst_topic AS mt ON bt.topic_id=mt.topic_id where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?))" "query" => "select b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number, mp.publisher_name as `publisher`, mpl.place_name as `publish_place`, b.labels, b.input_date, mg.gmd_name as `gmd`, GROUP_CONCAT(DISTINCT ma.author_name SEPARATOR ' - ') AS author, GROUP_CONCAT(DISTINCT mt.topic SEPARATOR ', ') AS topic, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id left join mst_gmd as mg on b.gmd_id=mg.gmd_id left join biblio_author AS ba ON ba.biblio_id=b.biblio_id left join mst_author AS ma ON ba.author_id=ma.author_id left join biblio_topic AS bt ON bt.biblio_id=b.biblio_id left join mst_topic AS mt ON bt.topic_id=mt.topic_id where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?)) group by b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number, mp.publisher_name, mpl.place_name, b.labels, b.input_date, mg.gmd_name order by b.last_update desc limit 10 offset 4180" ]
Bind Value ⚒️: array:1 [ 0 => "%O%" ]
Setiap keris memiliki ciri tersendiri yang disebut tangguh, seperti tangguhngentha-enthayang diciptakan di lingkungan masayarakat Desa Ngentha-Entha. Tokoh penting yang membuat keris dengan tangguh ini adalah Empu Wayang. Pada tahun 1963 pembuatan keris dengan gaya ini sempat terhenti karena meninggalnya Empu Wayang. Tahun 1975 ada upaya merevitalisasinya dan berhasil. Penelitian ini bermaksud …
Tari Ratu Graeni merupakan tarian tunggal dengan karakter putri lanyap, pembawaannya anggun, dan tangkas. Tari ini bertema heroik, properti yang digunakan adalah keris dan sampur. Dalam ceritanya tai Ratu Graeni ini sedang mempersiapkan diri berlatih perang untuk menghadapi Raja Prabu Ganadawikalpa. Tari Ratu Graeni termasuk rumpun tari karya Tjetje Somantri yang memiliki pesona, daya tarik dan…
Musik Tari dapat diistilahkan juga iringan tari yang diartikan sebagai musik pengiring dalam pertunjukan tari. Allan P. Merriam (1964) bahwa salah satu fungsi musik adalah physycal response atau sama artinya merspon dan atau merangsang gerak. Lebih lanjut Merriam menjelaskan kehidupan musik tidak pernah lepas dari fenomena yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari manusia, termasuk bagaimana mu…
Karya penelitian tari Anak-anak Bersatulah Negeriku merupakan tanda kepedulian peneliti terhadap NKRI yang semakin lama semakin rentan terhadap ancaman, baik dari luar maupun dalam. Slah satu cara untuk menghargai dan mempertahankan NKRI adalah denga mengajak anak SD untuk berproses dalam karya tari. Dengan demikian anak-anak lebih mengenal dan mencintai NKRI sekaligus bersosialisasi untuk sali…
Ritual Marongge adalah tema karya tari bersumber dari kehidupan nyata di kampung Marongge Keamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Tempat ini ramai dikunjungi orang dari berbagai pelosok negeri sebagai solusi spiritual perjodohan, perekonomian dan kehidupan lainnya berdasarkan ritual tertentu melalui petunjuk juru kunci (kuncen) pemegang otoritas spiritual di tempat tersebut guna mendapatkan kekuatan…
Dikhotomi tradisi dan modern sudah tidak layak lagi untuk saling dipersandingkan bila pengertiannya hanya terbatas pada kata benda yang terkait dengan nomenklatur/penamaan tari. Hal ini masih sangat banyak terjadi sebagai salah kaprah yang menjadikan pengertian tradisi sebagai sesuatu yang beku, baku dan tidak berubah sepanjang keberadaan dirinya. Disinilah perlunya koreksi ini menjadi bagian d…