/server/www/perpustakaan/lib/SearchEngine/DefaultEngine.php:705 "Search Engine Debug 🔎 🪲"
Engine Type ⚙️: "SLiMS\SearchEngine\DefaultEngine"
SQL ⚙️: array:2 [ "count" => "select count(distinct b.biblio_id) from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id left join mst_gmd as mg on b.gmd_id=mg.gmd_id left join biblio_author AS ba ON ba.biblio_id=b.biblio_id left join mst_author AS ma ON ba.author_id=ma.author_id left join biblio_topic AS bt ON bt.biblio_id=b.biblio_id left join mst_topic AS mt ON bt.topic_id=mt.topic_id where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?))" "query" => "select b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number, mp.publisher_name as `publisher`, mpl.place_name as `publish_place`, b.labels, b.input_date, mg.gmd_name as `gmd`, GROUP_CONCAT(DISTINCT ma.author_name SEPARATOR ' - ') AS author, GROUP_CONCAT(DISTINCT mt.topic SEPARATOR ', ') AS topic, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id left join mst_gmd as mg on b.gmd_id=mg.gmd_id left join biblio_author AS ba ON ba.biblio_id=b.biblio_id left join mst_author AS ma ON ba.author_id=ma.author_id left join biblio_topic AS bt ON bt.biblio_id=b.biblio_id left join mst_topic AS mt ON bt.topic_id=mt.topic_id where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?)) group by b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number, mp.publisher_name, mpl.place_name, b.labels, b.input_date, mg.gmd_name order by b.last_update desc limit 10 offset 450" ]
Bind Value ⚒️: array:1 [ 0 => "%ant%" ]
Tokoh Durga Mahisasuramardini yang biasanya diwujudkan sebagai wanita yang cantil, tiba-tiba menjadi tokoh demonis. Hal ini disebabkan karena pertama, Durga adalah dewi terpenting dan dipuja dalam upacara Saiwa Tantra dan kedua karena terjadi perpaduan budaya kraton antara lain termuat dalam karya karya sastra kakawin, dan budaya luar kraton yang dimuat dalam sastra mandala karena disusun pada …
Makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) dan lingkungannya mempunyai kedudukan yang istimewa bagi manusia. Tidak hanya sebagai bahan pangan, tumbuhan dan binatang juga memiliki makna filosofis bahkan sakral bagi masyarakat tertentu. Hal ini menggambarkan bagaimana binatang menjadi begitu sangat istimewa dan dianggap sakral karena diyakini memiliki hubungan yang erat dengan nenek moyang oleh masyaraka…
Transformasi kaidah estetis tari tradisi gaya Surakarta tidak dapat dipisahkan dengan perwatakan tari seperti endhel atau branyak dan oyi atau luruh untuk tari putri, tari putra alus adalah luruh dan lanyap, madyataya atau katongan dan tari putra gagah yaitu kambeng, kalang kinantang, bapang kasatrian, dan bapang jeglong. Setiap perwatakan tari itu memiliki laku tari yaitu sepuluh patrapbeksa :…
Tari Klasik merupakan salah satu perangkat untuk menunjukkan kebesaran dan kedudukan sebagai seorang raja. Kedudukan raja tersebut mempunyai posisi dan peran yang sama dengan pusaka. Budaya semacam itu telah berlaku umum di Asia Tenggara yang mempraktekan konsep kenegaraan yang mengacu kepada konsep India Devaraja. Di Jawa hal itu diformulasikan sebagai ratu gung binathara artinya raja besar ya…
Musik Tari dapat diistilahkan juga iringan tari yang diartikan sebagai musik pengiring dalam pertunjukan tari. Allan P. Merriam (1964) bahwa salah satu fungsi musik adalah physycal response atau sama artinya merspon dan atau merangsang gerak. Lebih lanjut Merriam menjelaskan kehidupan musik tidak pernah lepas dari fenomena yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari manusia, termasuk bagaimana mu…
Dikhotomi tradisi dan modern sudah tidak layak lagi untuk saling dipersandingkan bila pengertiannya hanya terbatas pada kata benda yang terkait dengan nomenklatur/penamaan tari. Hal ini masih sangat banyak terjadi sebagai salah kaprah yang menjadikan pengertian tradisi sebagai sesuatu yang beku, baku dan tidak berubah sepanjang keberadaan dirinya. Disinilah perlunya koreksi ini menjadi bagian d…