PERPUSTAKAAN

Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title
Penanda Bagikan

Skripsi

Upacara Bubur Syura di Kampung Garawangi Desa Cibunar Kecamatan Rancakalong

Fujiasari, Agia Resti Nur - Nama Orang;

Keyword : bubur syura, rancakalong

Latar Belakang
Beberapa kesenian tradisional untuk peringatan peristiwa tertentu banyak dilaksanakan di berbagai daerah oleh masyarakatnya, yang dimanifestasikan dengan berbagai macam kesenian upacara. Kesenian yang termasuk kategori upacara, di antaranya adalah Tarawangsa, Rengkong, Bubur Syura, Beluk, Ngaruat, Ngalaksa dan lain-lain. Kesenian tradisional tersebut merupakan salah satu budaya masyarakat yang sejak lama merupakan produk tradisi kreatif yang telah dilakukan secara turun temurun. Pada masa lalu masyarakat Sunda lama percaya akan berbagai mitos yang banyak berpengaruh pada munculya upacara-upacara yang dilaksanakan sebagaimana telah menyatu dalam adat istiadat mereka pada masa tersebut.
Keadaan tersebut juga ditemukan di salah satu daerah Rancakalong Sumedang, tepatnya di Kampung Garawangi Desa Cibunar Kecamatan Rancakalong. Di sini diselenggarakan sebuah upacara Bubur Syura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram berkaitan dengan kisah Nabi Nuh. Dikisahkan, ketika Nabi Nuh dan pengikutnya kehabisan perbekalan saat perang, ia memerintahkan agar masing-masing (pengikutnya) membawa biji-bijian dan seluruh sisa makanan untuk dibubur bersama, agar seluruh pengikutnya dapat perolehan makan (kenyang). Atas dasar kisah itu masyarakat Rancakalong menyelenggarakan upacara Bubur Syura setiap tanggal 10 Muharram sebagai tanda peringatan atas kisah tragis yang dialami oleh Nabi Nuh. Upacara Bubur Syura ini merupakan warisan leluhur atau nenek moyang mereka dan telah menjadi ritual yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya. Selain itu, upacaranya memiliki dorongan tersendiri untuk kelangsungan kehidupan masyarakatnya (Yanti, 2007-2008:257).
Tahun 2012, hari Asyura yang bertepatan dengan tanggal 10 bulan Muharram jatuh pada tanggal 24 November 2012.Bulan Muharram sendiri adalah bulan ke-1 di dalam penanggalan Islam atau penanggalan Hijriah.Banyak legenda dan hikayat tentang hari Asyura atau pada tanggal ke-10 bulan Muharram ini. Hal ini ditengarai dengan banyaknya umat Islam yang memperingati 10 Muharram dengan berbagai peringatan untuk menghargai dan mensyukuri kebesaran Allah.
Bulan Muharram ini oleh Sultan Agung dinamakan sebagai bulan Suro. Dalam sistem Islam sendiri, bulan ini dipandang sebagai bulan suci. Pada bulan ini larangan perang terhadap kaum Kafir Quraisy dicabut. Bagi kaum Syiah, Muharram merupakan bulan ratapan (syahr al-niyahah) atas kematian Husein bin Ali (w.10 Muharram 61 H) (Muhammad, 2009: 23).
Di dalam Upacara Bubur Syura kehadiran Tarawangsa sangat penting dalam pelaksanaannya, sebab Tarawangsa menjadi pembuka ijab kabul permohonan awal dan sebagai musik pengiring jalannya Upacara Bubur Syura. Tarawangsa sendiri sangat terkait dan menjadi bagian yang integral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rancakalong, Sumedang. Segala aktivitasnya menyertakan tarawangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan, dan dirasakan sangat bermakna dalam dan memberi energi atas kehidupan mereka. Masyarakat memiliki keyakinan bila melaksanakan upacara ini, permohonan pun akan terkabul. Makna sakral dalam seni tarawangsa ada dalam aturan mainnya, yaitu yang menyangkut masalah arah hadap (ruang pertunjukan), waktu pertunjukan, kelengkapan sesaji, dan pemisahan antara lelaki dan perempuan dalam menarinya.
Tarawangsa pada umumnya difungsikan untuk berbagai media upacara adat tradisional (ngalaksa, bubur syura, mapag sri), dan untuk berbagai hiburan (khitanan, perkawinan, perayaan kenegaraan, dan lain-lain). Tata cara penyajiannya dibedakan sesuai dengan fungsinya.Tarawangsa dalam bubur Syura tidak hanya sebagai musik pengiring yang menyertai keterlibatan para warga dalam ngabubur, tetapi juga memberikan sentuhan alam antara manusia dengan roh nenek moyang yang sudah dipercaya oleh masyarakat sebagai Nyi Pohaci. Dengan adanya upacara tersebut yang melibatkan ruang bawah sadar, maka terciptalah gerak yang menghanyutkan dengan iringan musik yang sederhana.
Diawali dengan ijab kabul permohonan awal untuk digelarnya Upacara Bubur Syura maka upacara dimulai dengan acara ngalungsurkeun, di mana yang memimpin acara ini adalah seorang laki-laki yang disepuhkeun atau biasa disebut Saehu. Di sinilah Saehu yang bertugas membuka setiap tahapan upacara dengan tarian. Gerak tarian Saehu disebut Ibing Badhaya.Ada juga yang diperbolehkan menari pada acara ngalungsurkeun yaitu Candoli. Candoli merupakan Saehu perempuan penjaga goah "kamar tempat sesaji" selama upacara digelar. Setiap tahapan upacara diawali dengan sebuah Ibingan Saehu.Dalam setiap Ibingan Saehu ada bentuk yang berbeda-beda. Setiap gerak memiliki maknanya terutama penghormatan kepada Nyi Pohaci, sekaitan dengan harapan kemakmuran dan kesuburan. Ibingan Saehu di awal pembukaan cukup lama karena dalam ibingan-nya Saehu harus mengikuti lima lagu berturut-turut. Setelah itu Saehu menyerahkan kepada paibuan untuk melanjutkan acara, diiringi oleh semua perempuan untuk ngibing bersama.
Ibingan Saehu memiliki aura tersendiri, sehingga dapat menarik perasaan dan jiwa pada suatu kejujuran serta kepasrahan yang terungkap dalam setiap gerak tarinya sampai pada kondisi trance. Ngibing merupakan salah satu upaya untuk melepaskan diri dari suatu beban hidup di kehidupan nyata. Maka tidak heran di saat ibingan berlangsung, ada yang sambil menangis tidak berhenti,dan ada yang berpelukan erat, semuanya muncul dengan sendirinya dari hati dan perasaaan jiwanya


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
RA 2013 FUJ u
Penerbit
: ., 2013
Deskripsi Fisik
29,5 x 21 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
390
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
Fujiasari, Agia Resti Nur
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?