Skripsi
Kalosawi
Seni tradisi merupakan sebuah identitas dimana di wilayah atau di desa tersebut terdapat sebuah kehidupan dan kebudayaan. Hal tersebut sangat disayangkan ketika keberadaan seni tadisi tersebut terkikis oleh modernisasi, karena dalam kebudayaan masyarakat tradisi masih memegang pakem-pakem yang ada. Apabila seni tradisi masih terikat dengan pakem-pakem tersebut, kemungkinan besar seni tradisi tersebut tidak akan berkembang dan semakin terkikis.
Berdasarkan keberlangsungan seni Cigawiran dalam garapan ini merupakan sebuah tujuan untuk melestarikan seni budaya di Jawa Barat dan meningkatkan minat dan motivasi masyarakat terhadap seni tradisi. Selain itu, secara pribadi proses pembuatan garapan ini merupakan tujuan penulis untuk menambah wawasan dalam belajar seni tradisi.
Garapan dengan judul “KALOSAWI†ini merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan seni tradisi Cigawiran yang mengaransemen lagu Kaloran dengan sebuah inovasi, dan disentuh dengan kreativitas. Namun berdasarkan tingkat kesempurnaan, garapan dan tulisan ini masih banyak kekurangan. Maka dari itu kritik dan saran di harapkan untuk memaksimalkan garapan dan tulisan.
Garapan ini mengambil karya aransemen dengan mengambil bahan lagu kaloran, dimana penulis mengambil bahan dari seni Cigawiran. Bentuk asli lagu kaloran yang terdapat di desa Cigawir kecamatan Limbangan kabupaten Garut ini sama seperti lagu-lagu berirama merdika dalam seni Cianjuran, namun yang membedakan antara lagu-lagu Cianjuran dengan Cigawiran adalah, apabila pada lagu Cianjuran diiringi dengan alat musik kacapi dan suling, akan tetapi lagu-lagu Cigawiran ini tanpa diiringi oleh alat musik apapun. Oleh karena itu, garapan ini mengambil lagu pada seni Cigawiran terutama lagu Kaloran untuk dijadikan materi karya aransemen. Garapan ini dibentuk berdasarkan makna dari isi rumpaka lagu "Kaloran†tersebut.
Makna atau isi dari rumpaka/lirik pada lagu kaloran menceritakan tentang sebuah fenomena seorang manusia ketika di lahirkan dari rahim seorang ibu setelah sembilan bulan mengandung, dimana ketika dalam masa kandungan berumur delapan hingga sembilan bulan merasakan berbagai hal yang tidak bisa di prediksi akan kelahiranya.
keywords: penciptaan musik, cigawiran
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain