Skripsi
TARI RAWAYAN
Rawayan diciptakan sekitar tahun 1980-an, tepatnya pada tahun 1987. Kata Rawayan dalam bahasa Sunda yaitu jembatan. Tarian ini tergolong jenis tari tunggal dan ditarikan oleh putri, namun dengan adanya tuntutan pertunjukan tarian ini seringkali disajikan secara kelompok atau rampak . Repertoar Tari ini memiliki gaya penampilan yang cukup berbeda dari karya-karya sebelumnya, baik dari sisi intensitas gerak, karakteristik gerak, penataan busana, maupun struktur musiknya. Kehadiran repertoar tari Rawayan memberikan pesan bahwa bentuk jaipongan akan terus hidup dan menuju pada suatu bentuk tertentu sesuai dengan kondisi dan situasi zamannya. Tari Rawayan lebih merupakan sebuah model yang dipilih oleh Gugum Gumbira dalam membangun pondasi baru gaya penampilan Jaipongan kedepan.
Adapun makna dari Rawayan adalah sebuah alat untuk menyebrang dari tempat awal ke tempat tujuan atau dengan kata lain sebuah proses yang menjebatani perpindahan dari tradisi ke modern. Hal inilah yang menarik bagi penyaji, oleh karena itu repertoar tari Rawayan dijadikan pilihan materi ujian tugas akhir pada Minat Utama Penyajian Tari.
Penyaji melakukan proses penyadapan di padepokan seni Jugala (tempat kediaman Gugum Gumbira) Jln. Kopo No. 15 Bandung, dan mendapatkan bimbingan langsung dari penciptanya yaitu Gugum Gumbira. Setelah penyaji mempelajari repertoar Tari Rawayan dan dapat menguasai tarian tersebut maka penyaji mendapatkan peluang untuk melakukan beberapa pengembangan dalam bagian-bagian tariannya, meliputi pengembanagan koreografi, pengembangan karawitan tari, menambahkan motif gerak pada bagian tertentu dan melakukan pengolahan ruang dalam bentuk pola lantai dan permainan level yang tepat untuk memberikan keindahan selama pertunjukannya. Gerak-gerak yang dikembangkan tidak menghilangkan gerak aslinya dan tidak merubah karakter serta esensi tarian tersebut.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain