KULMINASI TIGA KREATOR WORLD MUSIC INDONESIA

Artikel oleh ANGGIT SURYA JATNIKA , ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, kulminasi, geneaologi, kuasa tubuh, tiga kreator, world music.

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2019 ANG k

Relasi:

Dibuat: 30 Januari 2020

Abstraksi

World Music pertama kali dikemukakan pada tahun 1960 oleh Robert E. Brown,
etnomusikolog dari Universitas Wesleyan, Connecticut, AS. Dalam sudut
pandang etnomusikologi, world music merupakan jenis musik tradisional yang
berada di seluruh belahan dunia. Adapun dalam sudut pandang musikalitas bahwa
world music mempunyai sifat dan kecenderungan kolaboratif, menggabungkan
antara instrumen musik modern dengan instrumen musik tradisional. Fokus
penelitian ini pada Kulminasi Tiga Kreator World Music Indonesia yaitu I Gusti
Kompyang Raka, Djaduk Ferianto, dan Ismet Ruchimat melalui pendisiplinan
tubuh Foucault. Genealogi sebagai analisis regenerasi politis tiga kreator dan
konstruksi paradigma tiga kreator melalui relasi institusi sosial. Dari hasil
penelitian, genealogi relasi genetika tiga kreator, merupakan depedensi
pemberangkatan paradigma budaya dan seni. Hal ini menjadi representasi wacana
entitas dalam kedudukannya sebagai musik etnis Indonesia, serta kehadirannya
dalam wacana musik global. I Gusti Kompyang Raka, merepresentasikan musik
rock, jazz, ataupun musik modern lainnya dengan menggunakan ideologi dan
pengetahuan gamelan Bali yang tercermin dalam group musik Saraswati dan
Guruh Gipsy. Djaduk Ferianto merepresentasikan musik Nusantara dengan style
Jazznya menggunakan ideologi dan pengetahuan gamelan Jawa dalam kelompok
musik Kuaetnika. Ismet Ruchimat merepresentasikan musik etnik Sunda dengan
mengkonstruksi musik kolaborasi tradisional Sunda dengan musik modern dalam
kelompok musik Sambasunda. Adapun Ismet Ruchimat merepresentasikan
gamelan Bali dengan menggunakan ideologi dan pengetahuan gamelan Sunda
yang terdapat dalam album Bali Jaipong. Pengetahuan dan ideologi musik tiga
kreator, mendapat apresiasi dari relasi institusi sehingga membentuk dimensi
world music sesuai kulturnya dan menembus dimensi global. Dari analisis kuasa
tubuh Foucault, tiga kreator telah mencapai Kulminasi dengan mengkonstruksi
relasi kekuasaan dan pengetahuan world music Indonesia.


World Music was first put forward in 1960 by Robert E. Brown,
ethnomusicologist from Wesleyan University, Connecticut, USA. In the
perspective of ethnomusicology, world music is a type of traditional music in all
parts of the world. As for the musical point of view that world music has the
nature and tendencies of collaborative, combining modern music instruments with
traditional music instruments. The focus of this research is on the culmination of
three creators of World Music Indonesia, namely I Gusti Kompyang Raka, Djaduk
Ferianto, and Ismet Ruchimat through disciplining the body of Foucault.
Genealogy as an analysis of the political regeneration of three creators and the
construction of the three creator paradigm through the relations of social
institutions. From the results of the study, the genealogy of the three creators"
genetic relations is a depedency in the departure of the cultural and artistic
paradigms. This is a representation of the entity"s discourse in its position as
Indonesian ethnic music, and its presence in global music discourse. I Gusti
Kompyang Raka, representing rock music, jazz, or other modern music using
Balinese ideology and gamelan knowledge reflected in the music group Saraswati
and Guruh Gipsy. Djaduk Ferianto represented Nusantara music with its Jazz
style using Javanese gamelan ideology and knowledge in the Kuaetnika music
group. Ismet Ruchimat represents Sundanese ethnic music by constructing
traditional Sundanese collaboration music with modern music in the Sambasunda
music group. Ismet Ruchimat represents Balinese gamelan by using Sundanese
gamelan ideology and knowledge contained in the Bali Jaipong album.
Knowledge and ideology of the music of three creators, received appreciation
from the relations of institutions so as to shape the dimensions of the music wolrd
according to its culture and penetrate the global dimension. From the analysis of
the power of Foucault"s body, three creators have reached culmination by
constructing power relations and knowledge of Indonesian music world.

Hak Cipta

Copyright 2020 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Web Administration Officer #