HEGEMONI PERTUNJUKAN NGADU DOMBA GARUT

Artikel oleh IRMA FEBRYANI, ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, ngadu domba, hegemoni, persetujuan kultural.

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2019 IRM h

Relasi:

Dibuat: 30 Januari 2020

Abstraksi

Ngadu Domba merupakan pertunjukan yang sudah cukup lama berkembang serta menjadi salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Garut. Tesis ini menggunakan metode kualitatif yakni metode penulisan yang menyajikan data sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan melalui proses observasi, wawancara, pendokumentasian serta studi pustaka. Teori hegemoni milik Antonio Gramsci penulis gunakan sebagai alat untuk menelaah objek permasalahan yang penulis ambil dalam penulisan tesis ini. Pokok permasalahan dalam tesis ini adalah pertunjukan ngadu domba yang mengalami perubahan melalui upaya negosiasi antara berbagai kelas sosial demi menghasilkan persetujuan kultural. Pertunjukan ngadu domba mengalami perubahan sebagai dampak dari hegemoni yang dilakukan oleh kaum penguasa dalam hal ini adalah Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia yang menawarkan sebuah sistem pengetahuan baru terhadap pertunjukan ngadu domba. Praktek hegemoni yang dilakukan telah berhasil menembus dan melemahkan wilayah laten dan juga material dari pertunjukan ngadu domba tersebut. Salah satu perubahan yang dialami oleh pertunjukan ngadu domba ini ialah perubahan nama dari ngadu domba (ngaben) menjadi seni ketangkasan domba adu. Lebih jauh lagi, pertunjukan ini juga mengalami perubahan dari segi penyajian dan teknis pertunjukan. Perubahan yang dialami oleh pertunjukan ngadu domba merupakan salah satu upaya untuk menghilangkan citra buruk dari pertunjukan ngadu domba yang selama ini selalu dipandang negatif. HPDKI sebagai agen utama pembawa perubahan memfokuskan pertunjukan seni ketangkasan domba Garut ini sebagai sarana untuk meningkatkan nilai jual ternak dan menaikan taraf hidup masyarakat peternak.


Ngadu Domba has been developing for a long time and also one of the cultural
heritages that is owned by the people of Garut. This research used qualitative
descriptive method. This qualitative research character is emic perspective, means
that the data obtained is not based on the perception of researcher, but based on
what happened, what is felt and contemplated in the field by the study subjects. This
thesis uses the theory of hegemony from Antonio Gramsci. The main problem of this
thesis is when Ngadu Domba is changing through negotiation efforts between
various social classes in order to produce cultural agreement. Ngadu Domba
changes as a result of the hegemony carried out by Himpunan Peternak Domba
dan Kambing Indonesia which offers a new knowledge of ngadu domba. The
practice of hegemony managed to penetrate and weaken latent and material areas
of ngadu domba. One of the changes experienced by the performance of ngadu
domba is a change of name from ngaben to midang or Seni Ketangkasan Domba
Adu. The show also changes in terms of the courage and technical performance.
The evolution of the show become an attempt to eliminate this bad image of the
performance. The evolution of ngadu domba used as a mean to increase the sale
value of livestock and raise the standard of living of livestock farmers.

Hak Cipta

Copyright 2020 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Web Administration Officer #