HABITUS MASYARAKAT NADOMAN PADA MAJELIS TAKLIM TSAMROTUL FUAD PONDOK PESANTREN CIPASUNG TASIKMALAYA

Artikel oleh MUHAMMAD ZAINAL ARIFIN , ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, nadoman, habitus, pesantren, seni, budaya

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2019 MUH h

Relasi:

Dibuat: 30 Januari 2020

Abstraksi

Nadoman merupakan seni suara yang memiliki kekhasan tersendiri, dilantunkan
bersama-sama tanpa instrumen pengiring. Nadoman memiliki nilai-nilai estetik dan etik,
sebuah karya sastra yang memuat ajaran-ajaran tentang Islam. Pengajar/kiai yang
menggunakan metode nadoman tidak secara dogmatis dalam menerapkan ajaran Islam
kepada jamaahnya. Hal ini dilakukan oleh Hj. Dedeh Tsamrotul Fuadah pada majelis taklim
Tsamrotul Fuad Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya sehingga membentuk suatu habitus
masyarakat yang dikonstruksi oleh nadoman ciptaannya. Metodologi penelitian yang
digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan teori habitus dari Pierre Bourdieu. Fokus
pada penelitian ini adalah habitus masyarakat nadoman pada majelis taklim Tsamrotul Fuad
Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
terbentuknya masyarakat nadoman dan kesalehan perilakunya sebagai hasil dari proses
dialektika struktur, yakni struktur objektif dan struktur subjektif yang saling menginternalisasi
satu sama lain. Adapun struktur objektif tersebut adalah nadoman Tsamrotul Fuad yang
memuat nilai-nilai keislaman, di antaranya puji-pujian, doa, kisah rasul, dan nasihat
berdasarkan nilai-nilai religiusitas (Islami). Sedangkan struktur subjektif adalah individu
masyarakat sebagai pelaku (jamaah) majelis taklim Tsamrotul Fuad Pondok Pesantren
Cipasung Tasikmalya.


Nadoman is a song without instrument art that has its own peculiarities, sung together
without accompaniment instruments. Nadoman has aesthetic and ethical values, it is a literary
work that contains teachings about Islam. Teachers/scholars (kiai) in pesantren who use the
nadoman method are not dogmatic in applying Islamic teachings to their worshipers. Hj.
Dedeh Tsamrotul Fuadah is one of Islamic teacher who choose nadoman in Majelis Taklim
Tsamrotul Fuad of Cipasung Islamic Boarding School in Tasikmalaya. This nadoman forms
a habitus in its community. The research methodology used was qualitative using Pierre
Bourdieu"s habitus theory. The focus of this research is the habitus of the nadoman community
in majelis taklim Tsamrotul Fuad of Cipasung Islamic Boarding School, Tasikmalaya. The
results of this study indicate that the formation of a society of nadoman and their piety as a
result of the dialectical process of structure, namely objective structures and subjective
structures that internalize each other. The objective structure is the nadoman Tsamrotul Fuad
which contains Islamic values, including praise, prayer, the story of the apostle, and advice
based on the values of religiosity (Islamic). Whereas the subjective structure is the individual
community as the perpetrator (jamaah) of the majelis taklim of Tsamrotul Fuad at the
Cipasung Islamic Boarding School in Tasikmalya.

Hak Cipta

Copyright 2020 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Web Administration Officer #