RESISTENSI KOMUNITAS BANDUNG PYRATE PUNK PADA INDUSTRI MUSIK POPULER

Artikel oleh YANRI FAJAR AGHISNA NURCAHYANA , ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian, punk, resistensi, dan musik, industri, populer

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2019 YAN r

Relasi:

Dibuat: 30 Januari 2020

Abstraksi


Punk merupakan subkultur yang terlahir dari gerakan perlawanan. Industri musik
populer adalah salah satu hal yang ditentang oleh komunitas punk. Di Bandung,
keberlangsungan kegiatan bermusik kaum punk mendapat ancaman dari adanya dominasi
industri musik populer. Masuknya elit-elit industri ke ranah komunitas underground di
Bandung memicu gerakan resistensi dari komunitas Bandung Pyrate Punk. Dengan
mengedepankan etos kerja kolektif, mereka melakukan gerakan perlawanan untuk
menahan efek dari adanya dominasi tersebut.
Penelitian ini menggunakan Teori resistensi dari James C. Scott dengan fokus
analisis mengenai bentuk dan tahapan resistensi yang ada pada komunitas Bandung Pyrate
Punk. Metodologi yang digunakan sejalan dengan kerangka teoritik yaitu metodelogi
kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi.
Peneliti menggunakan teknik penentuan informan secara purposive dengan beberapa
karakteristik.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Bandung Pyrate Punk
memarjinalkan diri agar terhindar dari arus industri musik populer. Namun, mereka
memperkuat koloni dengan menghasilkan ide-ide alternatif seputar produksi, pemasaran,
dan juga penciptaan karya seni untuk menunjang kegiatan bermusik sebagai upaya
perlawanan terhadap dominasi industri musik populer. Proses-proses tersebut merupakan
upaya dalam mempertahankan keberlangsungan musik punk dan komunitasnya.


Punk is a kind of subculture born from the act of opposition. Popular Music
Industry is one of the thing that the punk community oppose. In Bandung, the popular
music industry’s dominance is seen as a threat toward the continuity of punk community’s
musical activities. With the industry elites stepping in to the land of underground
community in Bandung, has triggered a resistance act from Bandung Pyrate Punk
community. While prioritizing the collective work ethos, they do these opposition to
withstand the effects caused by popular music industry’s dominance.
This research is based on resistance theory by James C. Scott, to which the theory
is focusing on the analysis about Bandung Pyrate Punk community’s form and steps of
resistance. The methodology that has good compatibility with the theoritical framework is
qualitative methodology, which used an in-depth and observant interviews as their
collecting data techniques. The researcher purposively used the informant determine
technique with several characteristics.
The results of this research shows that Bandung Pyrate Punk marginalize themself
in order to avoid the flow of popular music industry. However, they strengthen their colony
by coming up with alternative ideas regarding production, marketing, and creating
artworks to support their musical activities as an effort to fight the popular music
industry’s dominance. These progresses are their efforts to maintain punk music and the
community’s existence.

Hak Cipta

Copyright 2020 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Web Administration Officer #