REVITALISASI PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL DUL MULUK

Studi Kasus Kelompok Teater Pancarona Jambi Pada Pertunjukan Di TVRI

Artikel oleh Cerly Chairani Lubis, ISBI Bandung

Kata kunci: Revitalisasi, Teater Tradisi, Dul Muluk Jambi

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2014 LUB

Relasi:

Dibuat: 23 Maret 2021

Abstraksi

Penelitian ini merupakan sebuah kajian mengenai teater tradisional Dul Muluk Jambi khususnya konsep revitalisasi yang dilakukan kelompok teater Pancarona Jambi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif analisis, dan untuk memperdalam analisis fakta yang didapat, penulis menggunakan teori revitalisasi yang dikemukakan oleh Richard Wagner serta teori pewarisan budaya yang dikemukakan oleh Berry John W dan didukung juga dengan pendapat dari Van Perseun mengenai strategi budaya.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang Dul Muluk yang dipentaskan dari jaman dulu hingga sekarang secara turun temurun sesuai dengan tuntutan jaman sekarang. Penelitian dilakukan melalui studi kasus revitalisasi yang dilakukan oleh Bonarti Lubis sebagai pimpinan kelompok teater Pancarona yang sampai saat ini masih bertahan untuk menampilkan Dul Muluk pada setiap pementasannya, baik di Jambi maupun di luar Jambi. Sadar akan kewajibannya sebagai pewaris budaya dan kesenian di Jambi, maka berbagai upaya pun dilakukan untuk tetap melestarikan kesenian teater tradisional Dul Muluk, salah satu caranya adalah dengan merevitalisasi pertunjukan Dul Muluk sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan jaman yang berorientasi pada relevansi kehidupan modern tetapi tidak meninggalkan kekhasan lamanya.
Revitalisasi dimaksudkan pada pengemasan ulang pertunjukan Dul Muluk dengan mempersingkat durasi pertunjukan menjadi kurang lebih satu jam, membawakan cerita-cerita yang lebih bervariasi sesuai dengan realita yang sedang terjadi saat ini, menampilkan tata busana serta tata rias yang lebih berwarna, dan juga memindahkan tempat pertunjukan, yang tadinya di panggung atau lapangan terbuka menjadi ke dalam studio TVRI yang tentunya didukung oleh teknologi tata cahaya dan artistik yang canggih. Selain itu, Dul Muluk yang telah masuk ke dalam program tetap TVRI Jambi itu disiarkan secara langsung sehingga para penonton khusunya masyarakat Jambi sekarang bisa menikmati tontonan tanpa harus menunggu moment-moment tertentu.
Upaya yang dilakukan oleh Pancarona bertujuan agar masyarakat tetap menyukai kesenian ini sehingga Dul Muluk tetap menjadi tontonan khususnya bagi masyarakat Jambi. Selain itu, perubahan kemasan dilakukan karena harus menyesuaikan dengan fasilitas jaman seperti media televisi yang bersifat komersil. Alasannya adalah bahwa mata penikmat telah dimanjakan dan dihibur oleh tontonan-tontonan yang menyegarkan mata melalui media televisi.


This study is an assessment of the traditional theater Dul Muluk Jambi particular revitalization concept that made theater group Pancarona Jambi.
The method used in this research is descriptive qualitative method of analysis, and to deepen the analysis of the facts obtained, the author uses the revitalization theory proposed by Richard Wagner and cultural inheritance theory proposed by John W. Berry and supported also by the opinion of Van Perseun on strategy culture.
This study describes the Dul Muluk are staged from ancient times to the present generation to generation in accordance with the demands of today. The study was conducted through a case study conducted revitalization by Bonarti Lubis as head Pancarona theater group which until now still survive for display on any pementasannya Dul Muluk, both in and outside of Jambi Jambi. Conscious of its obligations as heir culture and arts in Jambi, various efforts have been undertaken to preserve the art of traditional theater continue Dul Muluk, one way is to revitalize the show Dul Muluk in accordance with the demands and needs of the time-oriented relevance of modern life but do not leave the peculiarities length.
Revitalization aimed at repackaging Dul Muluk performances by shortening the duration of the show becomes more or less an hour, bringing the stories are more varied in accordance with the reality that is happening today, featuring fashion and makeup more colorful, and also move the venue, who had been on the stage or into the open field to the studio TVRI which must be supported by a lighting technology and sophisticated artistic. In addition, Dul Muluk that have been entered into the program remains the Jambi TVRI broadcast live so that the audience especially Jambi community can now enjoy the spectacle without having to wait for certain moments.
Efforts made by Pancarona intended that people still love this art so Dul Muluk remains a spectacle, especially for people of Jambi. In addition, changes made since the packaging had to adjust to the time of such facilities that are commercial television media. The reason is that the eyes of connoisseurs has been pampered and entertained by the spectacle-spectator refresh the eye through the medium of television.

Hak Cipta

Copyright 2021 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Administrator #