MAKNA DAN NILAI KIDUNG BANYU PITU PADA UPACARA SELAMATAN MEMITU DI DESA KEDOKAN AGUNG KECAMATAN KEDOKAN BUNDER KABUPATEN INDRAMAYU

Artikel oleh Melsya Firtikasari, ISBI Bandung

Kata kunci: pengkajian seni, kidung banyu pitu, upacara memitu

Sumber pengambilan dokumen: PASCA 2014 FIR

Relasi:

Dibuat: 23 Maret 2021

Abstraksi

Penulisan tesis ini membahas tentang tata cara pertunjukan Kidung Banyu Pitu pada Upacara Selamatan Memitu. Kesenian Kidung Banyu Pitu merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Desa Kedokan Agung Kecamatan Kedokan Bunder Kabupaten Indramayu yang dilantunkan oleh seorang pujangga, Kidung Banyu Pitu ini berkaitan dengan upacara adat ritual yang dilaksanakan setiap Memitu. Kidung Banyu Pitu merupakan bagian dari upacara selamatan Memitu yang dipercayai oleh masyarakat setempat agar ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan bagi masyarakat Kedokan Agung. Dalam penyajiannya, Kidung Banyu Pitu biasanya hanya dilakukan lantunan oleh satu orang pujangga. Lantunan tersebut bukan hanya lantunan biasa, melainkan sangat berkaitan dengan kalimah tauhid. Kidung Banyu Pitu terdapat dalam Kitab Mustika Rancang. Gambaran dari kalimat Syahadat. Dalam penyajian Kidung Banyu Pitu penulis melihat adanya bentuk-bentuk simbol yang mengandung makna bagi masyarakat pendukungnya. Makna bentuk-bentuk simbol tersebut sangatlah menarik untuk ditelaah mengingat perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia yang sedang menuju ke arah masyarakat modern telah membawa perubahan pada kebudayaan kita yang bersifat simbolis itu. Kini, pandangan hidup dan sikap sebagian masyarakat mulai bergeser ke arah aspek yang cenderung dianggap lebih rasional. Masyarakat seakan kurang percaya lagi pada keleluhuran makna-makna yang tersembunyi di balik simbol-simbol. Penulis meyakini bahwa makna dan nilai simbol dari Kidung Banyu Pitu pada upacara selamatan Memitu tersebut dapat mencerminkan pola kehidupan masyarakat tempat kesenian tersebut berkembang, dengan kata lain kesenian Kidung Banyu Pitu pada upacara selamatan Memitu akan dapat menggambarkan perilaku sehari-hari dari masyarakat pendukungnya.


The thesis discusses about the procedures of performing Kidung Banyu Pitu in the ceremony of Memitu. Kidung Banyu Pitu is one of the traditional arts of the District of Kedokan village, Kedokan Bunder, Indramayu which is sung by a poet. Kidung Banyu Pitu is related to the ceremonial ritual held in every Memitu. Kidung Banyu Pitu is usually done only by one person chanting poet. The chant is not only a plain one, but also is associated with the monotheism sentences. Kidung Banyu Pitu is contained in the Book of Kitab Mustika Rancang; the reflections of the sentence of the Creed (Syahadat). In presenting Kidung Banyu Pitu, the writer found that the forms contain meaningful symbols for the supporters. the meaning of the symbols is very interesting to be observed considering the development of the Indonesian culture, which is leading to the modern society, bringing the changes toward the symbolic culture. Nowadays, the perspective and the attitude of the society tend to begin to shift into a more rational aspects. The society seems to hasitate towards the hidden sacred meanings within the symbols. The writer believes that the form and the meaning of the symbols in Kidung Banyu Pitu in the ceremony of Memitu may reflect the pattern of life of the society in the community where the arts thrive. In other words, the arts of the song in the ceremony of Memitu will be able to describe the daily behaviour of the supporters of the community.

Hak Cipta

Copyright 2021 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

Administrator #