Anatomi Dan Norma-Norma Penyajian Teater Tradisi

Artikel oleh Arthur Supardan Nalan, S.Sen, M.Hum, STSI Bandung

Kata kunci: teater tradisi

Sumber pengambilan dokumen:

Relasi:

Dibuat: 02 Juni 2010

Abstraksi

Anatomi Dan Norma-Norma Penyajian Teater Tradisi<br />
<br />
Anatomi teater tradisi menunjuk pada cara pandang struktural, melalui analogi tubuh manusia, misalnya seperti kepala, tubuh, panca indra, tangan dan kaki. Teater tradisi yang umumnya memiliki anatomi teater atau pola-pola baku pertunjukan yang statis dari waktu ke waktu, misalnya seperti: bubuka (memakai musik), tari-tarian, lakon, bobodoran, tarian, penutup (juga memakai musik). Anatomi ini sifatnya kaku karena tradisi pewarisan di kalangan seniman teater tradisi mempunyai kadar pamali (tabu) jika merubahnya. Ditinjau dari sisi negatif pamali merupakan aspek ketertinggalan.<br />
Adapun norma-norma penyajiannya, lebih menunjukan pada pengaruh lingkungan kelompok etnis yang mempengaruhinya, Jawa, Sunda atau Melayu Batawi. Tampak di dalam penggunaan bahasa wewengkon (bahasa yang hidup di tempat tertentu), serta cerita kontekstual (cerita yang erat dengan tempat tertentu), termasuk waktu dan tempat pertunjukannya. (1990)<br />


n/a

Hak Cipta

Copyright (c) 2001 by Perpustakaan STSI. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

herry_erawan@stsi-bdg.ac.id